Harga Sebuah Salib
- World Transformation Church
- 2 Jun
- 3 menit membaca
Renungan Jumat Agung
Jumat Agung mengajak kita untuk merenungkan salah satu paradoks terbesar dalam iman Kristen.
Bagaimana penderitaan dapat menghasilkan kemenangan?
Bagaimana kematian dapat membawa kehidupan?
Bagaimana sesuatu yang tampak seperti kekalahan justru menjadi kemenangan terbesar dalam sejarah?
Salib mengingatkan kita bahwa cara kerja Tuhan sering kali berbeda dengan cara pandang manusia. Apa yang terlihat sebagai kekalahan pada hari Jumat ternyata menjadi dasar kemenangan yang kekal bagi seluruh umat manusia.
Ketika Orang Benar Mengalami Penderitaan
Yohanes Pembaptis adalah seorang yang hidup benar, saleh, dan berani menyuarakan kebenaran Tuhan.
Ia dengan setia mempersiapkan jalan bagi Mesias dan tidak takut menegur dosa, sekalipun dilakukan oleh penguasa. Namun justru karena keberaniannya, Yohanes dipenjarakan dan akhirnya dipenggal atas perintah Herodes dan Herodias.
Pertanyaan yang sering muncul adalah:
Mengapa orang benar tetap mengalami penderitaan?
Banyak orang menganggap bahwa perlindungan Tuhan berarti hidup tanpa masalah, tanpa kesulitan, dan tanpa penderitaan. Namun Alkitab mengajarkan sesuatu yang berbeda.
Rasul Petrus menulis bahwa berbagai pencobaan justru memurnikan iman kita, seperti emas yang diuji dalam api (1 Petrus 1:4-7).
Yesus sendiri berkata:
"Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku." (Lukas 14:27)
Menjadi pengikut Kristus bukanlah jaminan hidup tanpa penderitaan, melainkan panggilan untuk tetap setia dalam segala keadaan.
Yohanes Pembaptis dan Stefanus adalah contoh murid-murid Tuhan yang sejati. Mereka hidup benar di hadapan Allah, namun tetap mengalami penderitaan bahkan kematian karena iman mereka.
Penyertaan Tuhan tidak selalu berarti Ia mengeluarkan kita dari kesulitan. Namun Tuhan selalu hadir dan berjalan bersama kita di tengah pergumulan yang kita hadapi.
Kasih karunia yang memampukan Yohanes dan Stefanus tetap setia sampai akhir adalah kasih karunia yang sama yang tersedia bagi setiap orang percaya hari ini.
Melihat dari Perspektif Kekekalan
Sering kali penderitaan terasa begitu berat karena kita hanya melihat hidup dari sudut pandang dunia ini.
Jika hidup hanya berhenti di dunia, maka kematian tampak sebagai akhir dari segalanya.
Namun bagi Allah, kematian bukanlah akhir.
Kematian adalah pintu menuju kehidupan kekal yang sesungguhnya.
Dari perspektif manusia, kematian Yohanes Pembaptis dan Stefanus mungkin terlihat tragis. Namun dari perspektif surga, itu bukanlah kekalahan melainkan kemenangan yang sempurna.
Mereka menyelesaikan pertandingan iman dengan setia.
Kebenaran yang sama juga terlihat pada peristiwa salib.
Ketika Yesus tergantung di kayu salib, banyak orang mengira bahwa misi-Nya telah gagal. Para pemimpin agama mengejek-Nya. Murid-murid-Nya tercerai-berai. Kegelapan menyelimuti bumi.
Namun justru di saat itulah kemenangan terbesar sedang terjadi.
Melalui kematian-Nya, kuasa dosa dipatahkan.
Melalui pengorbanan-Nya, jalan keselamatan dibukakan bagi seluruh umat manusia.
Apa yang tampak seperti kekalahan ternyata adalah kemenangan yang sempurna.
Jumat Agung mengingatkan kita bahwa sering kali Tuhan sedang bekerja secara luar biasa di balik keadaan yang tampaknya paling gelap.
Tuhan Memakai Segala Sesuatu untuk Mendatangkan Kebaikan
Roma 8:28 berkata bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.
Ini bukan berarti semua hal yang terjadi adalah baik.
Namun Tuhan sanggup memakai bahkan situasi yang paling buruk sekalipun untuk menggenapi rencana-Nya.
Herodias berniat membungkam suara Yohanes Pembaptis melalui kematiannya. Namun Tuhan memakai peristiwa itu untuk menyatakan kuasa dan kebenaran-Nya.
Ketika pelayanan Yesus mulai dikenal luas, Herodes menjadi takut karena hati nuraninya terusik.
Markus 6:14 mencatat bahwa Herodes mengira Yohanes telah bangkit dari antara orang mati.
Kesaksian Yohanes terus berbicara bahkan setelah ia meninggal.
Suara kebenaran yang pernah ia nyatakan terus menghantui hati yang bersalah.
Apa yang dimaksudkan manusia untuk kejahatan, Tuhan sanggup pakai untuk kebaikan.
Prinsip yang sama terlihat dengan jelas di kayu salib.
Peristiwa paling tidak adil dalam sejarah justru menjadi sarana keselamatan bagi dunia.
Salib membuktikan bahwa tidak ada penderitaan yang sia-sia di tangan Tuhan.
Tidak ada pengorbanan yang dilupakan-Nya.
Dan tidak ada situasi yang terlalu gelap sehingga Tuhan tidak dapat menghadirkan tujuan dan kebaikan-Nya.
Kemenangan di Balik Salib
Jumat Agung bukan sekadar hari untuk mengenang penderitaan Yesus.
Jumat Agung adalah hari untuk mengingat harga yang telah dibayar demi keselamatan kita.
Yesus dengan rela menanggung penghinaan, penolakan, penderitaan, dan kematian karena kasih-Nya yang begitu besar kepada manusia.
Salib menunjukkan betapa seriusnya dosa, sekaligus betapa besarnya kasih karunia Allah.
Saat kita merenungkan Jumat Agung, marilah kita mengingat bahwa Tuhan tetap menyertai kita dalam setiap pergumulan, bahwa kekekalan jauh lebih besar daripada penderitaan sementara yang kita alami, dan bahwa Allah sanggup mengubah keadaan yang paling gelap menjadi bagian dari rencana-Nya yang sempurna.
Apa yang terlihat sebagai kekalahan di Golgota ternyata menjadi kemenangan terbesar dalam sejarah umat manusia.
Dan karena kemenangan itulah, kita memiliki pengharapan yang tidak akan pernah hilang.
Saksikan Khotbah Lengkapnya
Artikel ini hanya merangkum sebagian dari pesan yang disampaikan dalam ibadah Jumat Agung. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai makna salib dan pengorbanan Kristus, kami mengundang Anda untuk menyaksikan khotbah lengkapnya melalui channel YouTube kami.
Kiranya firman Tuhan ini menguatkan iman Anda, memberikan pengharapan baru, dan membawa Anda semakin dekat kepada Kristus yang telah memberikan hidup-Nya bagi kita.
â–¶ Saksikan khotbah lengkapnya di bawah ini dan jangan lupa subscribe channel YouTube kami untuk mendapatkan pesan-pesan yang membangun iman setiap minggunya.
