top of page

Walking With God (Part 1): Dari Movement Menjadi Sekadar Monumen?

  • Gambar penulis: World Transformation Church
    World Transformation Church
  • 5 hari yang lalu
  • 3 menit membaca

Diperbarui: 4 hari yang lalu

Renungan dari khotbah Ps. Y. Wiryohadi — Seri "Walking With God"


Setiap kita pasti pernah menghadapi masalah yang terasa terlalu besar untuk diselesaikan dengan cara berpikir kita yang biasa. Krisis, kegagalan, tekanan hidup, semuanya sering kali membuat kita mentok. Tapi ada satu prinsip penting yang perlu kita pegang: masalah di dunia ini tidak bisa diselesaikan dengan tingkat pemikiran yang sama dengan masalah itu sendiri. Kita butuh naik lebih tinggi.


Naik Lebih Tinggi untuk Menerima Pemikiran Tuhan

Ketika kita tidak mampu menyelesaikan suatu persoalan, itu tandanya kita perlu naik lebih tinggi, bukan secara fisik, tapi secara rohani untuk menerima pemikiran Tuhan. Yohanes 3:31 mengingatkan kita bahwa kita berasal dari atas (Sorga), sehingga sudah seharusnya kita menerima pemikiran dari atas agar mampu menyelesaikan persoalan yang ada di bumi.


Ini bukan konsep baru. Musa mengalaminya secara nyata. Ia naik ke gunung Horeb untuk menerima pewahyuan dan kekuatan baru dari Tuhan, guna menghadapi masalah yang belum pernah ia hadapi sebelumnya (Keluaran 24:13; 31:18). Di atas gunung itulah Musa menerima apa yang ia butuhkan untuk memimpin bangsa yang besar dan keras kepala.


Ketika Kita Turun dari "Gunung"

Namun ada bagian yang menyedihkan dari kisah ini. Saat Musa turun dari gunung, bangsa Israel justru menyembah lembu emas dan meninggalkan Tuhan (Keluaran 32:1–6). Ini adalah gambaran nyata dari apa yang terjadi ketika umat Tuhan kehilangan fokus pada perjumpaan dengan-Nya, mereka mudah berpaling kepada berhala-berhala baru.

Namun Tuhan tidak berhenti di situ. Ia kembali memanggil Musa untuk naik ke atas gunung, agar Musa menerima pewahyuan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di bawah (Keluaran 34:4). Tuhan selalu memberi kesempatan baru untuk kembali naik dan menerima arahan-Nya.


Bagian Kita, dan Rahasia-Nya

Amsal 25:1–2 mengajarkan sebuah keseimbangan penting: apa yang Tuhan nyatakan menjadi bagian kita untuk dikerjakan, namun apa yang belum Ia singkapkan tetap menjadi rahasia-Nya. Kita tidak dipanggil untuk mengetahui segalanya, tetapi untuk setia menjalankan apa yang sudah dinyatakan.


Prinsip ini sejalan dengan sikap hati yang ditunjukkan dalam Keluaran 33:15 — jika Tuhan belum memberikan firman dan kekuatan untuk mengerjakan perintah-Nya, lebih baik kita tidak melangkah dahulu. Ini bukan kepasifan, melainkan kepekaan rohani: melangkah bersama Tuhan, bukan mendahului-Nya.


Segala yang Besar Berawal dari yang Tidak Kelihatan

Ibrani 11:1–3 menegaskan bahwa segala sesuatu yang besar dan luar biasa yang kita lihat di dunia hari ini berawal dari firman Allah yang diwahyukan sesuatu yang sebelumnya tidak kelihatan. Apa yang dikagumi dunia saat ini berasal dari sesuatu yang tidak kelihatan: firman Allah yang diwahyukan kepada orang-orang yang mau naik dan mendengar.


Movement atau Monumen?

Inilah inti pesan yang perlu kita renungkan bersama: ketika pewahyuan baru berhenti, apa yang dulunya adalah sebuah movement akan menjadi sebatas monumen. Sebuah gerakan yang hidup, yang terus bertumbuh dan membawa dampak, bisa berubah menjadi sekadar kenangan masa lalu — jika kita berhenti mencari wajah Tuhan.


Sebaliknya, jika kita tetap berada di atas bersama Tuhan terus mencari perjumpaan baru dengan-Nya — apa yang kita kerjakan akan tetap menjadi sebuah movement yang hidup dan bergerak maju.


Ketika perjumpaan dengan Tuhan tidak lagi menjadi prioritas, tidak ada lagi pewahyuan yang segar. Dan pada akhirnya, movement berubah menjadi monumen.


Renungkan Bersama

Pertanyaan untuk kita minggu ini: apakah kita masih rutin "naik ke gunung" meluangkan waktu untuk benar-benar berjumpa dengan Tuhan di tengah kesibukan hidup? Atau kita sudah terlalu lama berada di bawah, mengandalkan pewahyuan lama tanpa mencari yang baru?


Mari kita jadikan perjumpaan pribadi dengan Tuhan sebagai prioritas, agar hidup dan pelayanan kita tetap menjadi movement yang hidup bukan sekadar monumen dari apa yang pernah Tuhan kerjakan di masa lalu.


Bagian dari seri khotbah "Walking With God" — Ps. Y. Wiryohadi, GBI WTC Serpong.


bottom of page