Walking With God (Part 4): The Great Unknown
- World Transformation Church
- 5 hari yang lalu
- 2 menit membaca
Renungan dari khotbah Ps. Y. Wiryohadi — Seri "Walking With God"
Pernahkah Anda berada di lembah air mata, di padang gurun kehidupan — mengalami kegagalan, ditipu, atau diperlakukan tidak adil — dan bertanya-tanya mengapa Tuhan terasa diam? Pertanyaan ini sangat manusiawi, dan hampir setiap orang percaya pernah mengalaminya.
Mengapa Tuhan Terasa Diam?
Kabar baiknya: bukan karena Tuhan enggan memberi jawaban. Diamnya Tuhan bukanlah tanda ketidakpedulian, melainkan tanda bahwa Ia sedang melindungi kita. Yesus sendiri pernah berkata kepada murid-murid-Nya, "Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya"Â (Yohanes 16:12 TB).
Ada kalanya Tuhan menahan penjelasan bukan karena Ia tidak mau menjawab, tetapi karena kita belum siap menanggung jawaban itu.
Belajar dari Yusuf: Proses, Bukan Penjelasan
Kisah Yusuf adalah gambaran yang kuat tentang prinsip ini. Penderitaan yang dialaminya — dijual oleh saudara-saudaranya, difitnah, dipenjara — bukanlah sesuatu yang perlu dijelaskan terlebih dahulu, melainkan sebuah proses persiapan yang harus dijalani. Yusuf tidak menerima penjelasan di tengah penderitaannya, tetapi ia menerima pembentukan yang mempersiapkannya untuk rencana Tuhan yang jauh lebih besar.
Setiap kali Tuhan diam, itu bukan berarti Dia tidak peduli. Sebaliknya, Ia sedang melindungi kita agar kita sampai pada rencana-Nya dengan utuh.
Empat Syarat untuk Menerima Jawaban Tuhan
Ada empat hal yang menentukan kesiapan kita untuk menerima jawaban dan penggenapan janji Tuhan:
Timing (Waktu) — Apakah waktunya sudah tepat untuk kita menerima penggenapan rencana-Nya? Pada waktu-Nya, penyediaan Tuhan terjadi secara supranatural — tidak pernah terlambat, tidak pernah terlalu cepat.
Maturity (Kedewasaan) — Apakah kita sudah cukup dewasa secara rohani untuk menerima apa yang Tuhan janjikan? Janji yang besar membutuhkan karakter yang sudah teruji.
Capacity (Kapasitas) — Apakah kita mampu menampung dan mengerjakan apa yang Tuhan percayakan? (Mazmur 105:21). Tuhan tidak akan memberikan tanggung jawab besar kepada wadah yang belum siap menampungnya.
Relationship (Hubungan) — Seberapa dekat hubungan kita dengan Tuhan? Inilah syarat yang paling mendasar dari semuanya.
Sahabat Dekat, Bukan Orang Asing
Kita perlu memiliki pengalaman berjalan bersama Tuhan, bukan sekadar mengenal-Nya dari kejauhan. Yesus berkata, "Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya... Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya"Â (Yohanes 14:21).
Rahasia yang besar tidak dijelaskan kepada orang yang baru dikenal, melainkan kepada sahabat dekat. Jika kita menjadi sahabat dekat Tuhan Yesus, kita akan menerima pewahyuan dan penjelasan atas perjalanan hidup kita (Yakobus 2:23).
Percaya dan Melangkah dalam Ketaatan
Di tengah masa-masa yang belum terjelaskan — the great unknown — respons kita bukanlah menuntut jawaban, melainkan percaya kepada Tuhan dan melangkah dalam ketaatan kepada firman-Nya. Pada waktu-Nya, Allah pasti akan memberikan penjelasan kepada kita.
Renungkan Bersama
Adakah area dalam hidup Anda saat ini di mana Tuhan terasa diam? Alih-alih menuntut jawaban segera, mari kita bertanya: sudahkah saya membangun kedekatan dengan Tuhan sebagai sahabat-Nya? Sudahkah saya percaya bahwa keheningan-Nya adalah bentuk perlindungan, bukan pengabaian?
Mari terus berjalan dalam ketaatan, sambil menantikan waktu Tuhan menyatakan penjelasan atas setiap perjalanan hidup kita.
Bagian dari seri khotbah "Walking With God" — Ps. Y. Wiryohadi, GBI WTC Serpong.
