Walking With God (Part 2): Menerima Arahan Tuhan
- World Transformation Church
- 5 hari yang lalu
- 2 menit membaca
Renungan dari khotbah Ps. Y. Wiryohadi — Seri "Walking With God"
Dalam perjalanan iman, ada satu kebutuhan yang tidak bisa kita abaikan: arahan Tuhan. Kita memerlukan arahan-Nya agar langkah kita tetap benar dan agar kita terus bertumbuh. Terlebih di masa-masa krisis, salah satu keterampilan rohani yang wajib dimiliki setiap orang percaya adalah kemampuan untuk mengerti arahan Tuhan.
Bagaimana Tuhan Mengarahkan Umat-Nya?
Tuhan tidak berbicara dengan satu cara saja. Ia berbicara melalui berbagai sarana, di antaranya:
Melalui Firman Tuhan
Melalui mimpi
Melalui audible voice (suara yang terdengar jelas)
Melalui penglihatan
Melalui keadaan yang kita alami sehari-hari
Karena Tuhan bisa berbicara melalui banyak cara, kita perlu memiliki hati yang peka dan terbuka, agar tidak melewatkan arahan-Nya — dalam bentuk apa pun itu datang.
Bagaimana Cara Lebih Peka Menerima Arahan Tuhan?
Kepekaan rohani bukan sesuatu yang datang begitu saja — ia dibangun melalui kebiasaan dan sikap hati yang konsisten. Berikut beberapa langkah praktis yang bisa kita lakukan:
Membaca Firman Tuhan setiap hari, agar pikiran dan roh kita selaras dengan kehendak-Nya (Mazmur 119:105).
Belajar menyelaraskan hidup dengan Firman yang sudah dinyatakan kepada kita, sebagaimana teladan Kristus sendiri dalam doa-Nya (Matius 26:39).
Menyediakan waktu untuk bersekutu dengan Tuhan melalui saat teduh pribadi maupun mezbah keluarga (Mazmur 5:3–4).
Semakin mengenal apa yang Tuhan sukai dan tidak sukai, melalui persekutuan yang terus-menerus dengan-Nya (Kejadian 6:9).
Mencurahkan isi hati kepada Tuhan — saat kita melakukannya, beban dan tekanan terangkat, dan damai sejahtera memenuhi hati kita.
Tidak terlalu sibuk, sehingga kita tidak kehilangan kepekaan untuk mendengar suara Tuhan (Mazmur 19:8–11).
Hidup tenang agar kita dapat berdoa — sebab pada saat kita stres, kita sulit menerima arahan Tuhan dengan jernih (1 Petrus 4:7).
Belajar menantikan Tuhan, karena dalam sikap tinggal tenang dan percaya terletak kekuatan kita (Yesaya 30:15).
Hati yang Tenang, Telinga yang Peka
Ada satu kebenaran penting yang perlu kita ingat: hati yang cemas, kuatir, dan gundah gulana akan sulit menangkap arahan Tuhan. Sebab di mana ada Roh Tuhan, di situlah ada kemerdekaan dan damai sejahtera. Kegelisahan dan kekhawatiran justru menjadi penghalang bagi kita untuk mendengar suara-Nya dengan jernih.
Renungkan Bersama
Minggu ini, mari kita bertanya pada diri sendiri: apakah saya sudah menyediakan waktu yang cukup untuk bersekutu dengan Tuhan setiap hari? Apakah hati saya sedang dipenuhi kecemasan, atau ketenangan yang lahir dari percaya kepada-Nya?
Mari belajar untuk hidup tenang, menantikan Tuhan, dan tetap peka terhadap segala cara Ia berbicara — melalui Firman-Nya, keadaan, maupun perjumpaan pribadi kita dengan-Nya setiap hari.
Bagian dari seri khotbah "Walking With God" — Ps. Y. Wiryohadi, GBI WTC Serpong.
